Senin, 03 November 2014

Merawat Handuk

Singkat cerita, saya baru mulai kost (berasa jadi mahasiswa sepenuhnya). Bermasyarakat dengan penghuni kost lainnya dengan kebiasaan universal dan kebiasaan masing-masing yang beberapa halnya hanya kami yang bisa saling memahami :')

Tapi yang saya perhatikan adalah handuk.

Melihat bervariasinya kesadaran akan kebersihan diri -khususnya handuk- membuat saya memikirkan untuk menulis di sini. Harapannya sederhana, hanya berbagi pikiran. Udahlah to the point aja, intiya kamu sebagai anak kost atau bukan harus menjaga handuk sekurang-kurangnya dengan menjalankan petuah-petuah saya ini:
1. Cuci dua minggu sekali.
    Kenapa? Karena jika kamu mencuci setahun sekali sudah pasti geuleuh men! Bisa bisa jamur yangmenempel dihanduk tumbuh berkembang sampai berbuah -_-. Kalau bisa sih 1 minggu sekali.
2. Buat area khusus.
   Saya contohkan: Untuk area wajah dan rambut, saya pakai kedua ujung handuk. Dan tengahnya saya gunakan untuk mengeringkan badan, tangan, kelamin, kaki, bokong, dll.
3. Jangan lupa dijemur
   Apa perlu ini diingatkan? Saya kira perlu lah. Buktinya teman saya sering lupa. Menaruh handuk di kasur, lalu ditinggal kuliah. Sepulang kuliah saya buka kosan, wow aromanya amazing! hapeuk men..
4. Jangan pinjam punya orang
   Bagaimana kalau terpaksa? Kalau sedang pakai kaos dalam, biasanya saya lebih baik pakai itu untuk jadi handuk. Coba kalau pinjam? Bekas mengusap anunya, kamu usapkan ke wajah kamu?
5. Kalau bisa punya 2 buah
    Fungsinya sih agar kalau yang satu dicuci, dan belum kering, kamu bisa pakai yang kedua. Tapi ada juga hal-hal yang urgent. Yaitu saat temenmu pinjem handuk. Mau ga ngasih pinjem gimana coba?

Udah ya itu aja. Ngerti kan? Mau dijalankan terserah, ngga juga terserah.

Rabu, 17 September 2014

Bingkisan Kalbu

Ada kekhawatiran dalam raut wajahnya..
Ada rasa cemas di setiap sorot matanya..

Ada kehampaan pada senyum yg dia saji..
Ada kekosongan yg ku lihat di mimik mukanya..

Apa yg ada di balik pucat wajahnya?
Apa yg menghinggap di kecemasan sorot matanya?


Ini puisi 22  November 2011.
Untuk seseorang
 yang waktu itu
kuperhatikan
ekspresi wajahnya
selalu begitu

Senin, 15 September 2014

Khotbah yang Masih Saja Ada

Kemarin sore, di Mesjid samping kost-an saya ada acara rutin pengajian entah apa. Yang jelas ibu-ibu sampai nenek-nenek rutin menghadiri acara tersebut yang isinya ceramah keagamaan. Dulu sekali sejak saya baru kost di tempat itu, saya awalnya tidak merasa ada hal yang membuat saya terganggu maupun tertarik mendengar ceramah tersebut. Namun akhir - akhir ini saya jadi kurang suka dengan isi khotbah yang didengung-dengungkan. Bukan karena agama yang saya anut berbeda, hanya saja isi khotbah yang saya dengar dari sana sering menyinggung ajaran agama lain.

Awalnya, saya sedang iseng mendengarkan khotbah tersebut, karena memang suaranya sangat keras. Terdengar kata Yahudi berkali-kali. Menjelek-jelekkan penganut Yahudi seolah-olah semua Yahudi itu jelek. Khotbah yang saya sayangkan karena sadar atau pun tidak, ini sama saja menanamkan kebencian kepada penganut agama lain. Terakhir, kemarin, saya dengar penceramah membahas teologi Islam, tentang keesaan Tuhan dalam pandangan Islam. Bahwasannya Allah itu satu, satu yang benar-benar satu. Yah, intinya begitu. Namun lagi-lagi saya sayangkan karena ketika membahas teologi islam, pembicaran menggeser membahas teologi agama lain. Membicarakan agama Kristen dengan konsep trinitas, satu dalam tiga, tiga dalam satu. Membahas teologi Trimurti, yakni Dewa Siwa, Wisnu, dan Brahma. Tidak hanya itu, Sang Penceramah menyinggung umat Buddha menyembah patung, Nasrani menyembah Salib, dll. Jujur, ceramah-ceramah seperti ini, memang sering saya dengar bukan hanya di Mesjid itu. Sering saya dengar, penceramah yang membahas ajaran agama lain dan suarakan kebencian terhadap penganut dan ajaran agama lain.

Jika mau dilihat dari segi teologi, Islam juga tidak hanya ada satu teologi, ada Mu'tazilah dan Asy'Ariyah. Jika mau membahas teologi, bahaslah sekurang-kurangnya dua ajaran teologi islam itu, saya yakin satu pertemuan ceramah pun kurang cukup untuk membahas itu. Dan menurut hemat saya, ini lebih baik ketimbang harus menyinggung teologi agama lain yang secara etika tidak patut untuk dibahas. Kenapa? Yang pertama karena penceramah adalah penganut agama Islam. Sudah barang tentu tidak etis membahas Ketuhanan dalam agama lain, mengingat firman Tuhan yang artinya, "Untukku agamaku, untukmu agamamu". Selain itu, saya pun ragu bahwa penceramah itu memahami pemahaman teologi agama lain secara benar. Bukinya, penganut agama lain yang paham tidak ada masalah dan tidak ada keraguan dalam meyakini ajarannya. Selain itu, saya ingin  mengatakan begini; Jika kita menganggap penganut Kristen menyembah Salib, atau penganut Hindu dan Buddha menyembah patung, maka apakah kita tidak sadar bahwa kita Sholat menghadap Ka'bah? Jika kita punya pembelaan bahwa kita tidak menyembah Ka'bah, maka kurang lebih alasan penganut agama lain juga sama. Tapi, jika kita tetap ngotot dengan prinsip itu, saya anjurkan berdiskusilah dengan para pemuka agama lain, itu bila kita sungguh-sungguh. Lagipula, apa untungnya membenci penganut dan ajaran agama lain?

Sepertinya suasana di paragraf di atas terlalu panas ya? hehe. Mari kita dinginkan dahulu pikiran yang panas itu. Sebenarnya saya tidak bermaksud membenarkan ajaran lain karena saya akui pengetahuan saya sedikit. Sangat sedikit. Karena saking sedikitnya pengetahuan saya itu, saya pun tidak berani lancang mengatakan ajaran agama lain itu salah. Bukankah selain Tuhan dan para Nabi yang suci, manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan kebenaran yang sejati? Jadi, mari kita jalani apa yang kita yakini, tanpa perlu saling menyerang keyakinan yang lain. Sibukkanlah memperbaiki diri, mudah-mudahan Tuhan memberkati kita selalu.

Saya juga tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan Islam. Walaupun pemahaman islam saya berbeda dengan kebanyakan, tapi saya sama cinta kepada Kanjeng Nabi. Saya tidak ingin kedamaian yang Beliau ajarkan harus ternoda oleh kebencian umatnya kepada umat yang lain. Apalagi nama islam tercemar sebagai agama teroris. Jujur saja ini pukulan bagi saya sebagai pengikut Kanjeng Nabi, karena stempel teroris ini secara tidak langsung mencemari nama terpuji Kanjeng Nabi.
Terakhir, sebagai penutup, saya ingin menyampaikan pemahaman bahwa sepatutnya khotbah itu lebih ditekankan pada pemahaman yang benar tentang ajaran Islam, khusus ajaran Islam. Tidak boleh menyinggung ajaran agama lain, apalagi memprovokasikan kebencian. Saya yakin bahwa sangat banyak kandungan ajaran agama islam yang perlu digali dan terus digali demi pemahaman umat. Jika kita sudah cinta dengan agama kita, kita sibukkan diri kita memahami ilmu-Nya, maka tidak ada waktu untuk mengurusi bahkan mengkritik ajaran agama lain. Selain itu, orientasi dakwah sangat perlu membahas tentang sifat-sifat mulia Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Misalnya, bagaimana beliau memimpin masyarakat majemuk Kota Madinah yang terdiri dari Islam, Nasrani, Yahudi, dll. Bila peneladanan sifat-sifat mulia Kanjeng Nabi terus didakwahkan, mudah-mudahan semakin banyak pemeluk agama islam yang santun. Salam :)

Senin, 08 September 2014

Kamuflase

Seekor katak melompat-lompat.
Mencari alat tulis untuk menulis atau melukis atau merilis atau apa saja yg berakhiran -is
Juga sebuah cerita yang manis, romantis, dan mungkin juga tangis, bila terjadi.
Dalam pikirnya, terlalu vulgar bila aku pergi ke sebuah toko dan mengatakan apa yg aku butuhkan.
~Tunggu, dimana kata puitis?
-Ah, aku kehabisan kosakata. Software kbbi ku hilang saat aku menginstal windows yg baru.
~Lalu, apa yg kau ceritakan dalam cerita ini?
- Kau hanya harus membacanya dan kau akan tahu nanti atau tetap tak mengerti.

Kembali pada katak.
Akhirnya dia terus berlari setelah sebelumnya melempari kunang-kunang dg meja-meja tua.
Dia akan terus berlari di atas jalan setapak yang memisahkan padang rumput sebelah kiri dan kanannya.
-dalam keadaan masih bertobat-
Dia berhenti sejenak,
Ada sebatang kayu kecil yg bisa menggores daun-daun.
Tapi, belum sebait dia patahkan.
Pergilah ia sampai sekitar 3 meter jaraknya.
Dia membuka ranselnya dan menemukan sebuah pulpen.
Hey di depan sana ada pensiltic, spidol, atau crayon?


06 Oktober 2012

Selasa, 06 Desember 2011

Nabi Muhammad dalam Kitab Weda

Sedang iseng - iseng di warnet, Saya tersesat di sebuah blog yang berisikan hal yang mengejutkan saya... Berikut hasil copy-an dari blog yang saya kunjungi :

Seorang professor bahasa dari ALAHABAD UNIVERSITY INDIA dalam salah satu buku terakhirnya berjudul "KALKY AUTAR" (Petunjuk Yang Maha Agung) yang baru diterbitkan memuat sebuah pernyataan yang sangat mengagetkan kalangan intelektual Hindu.
Sang professor secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, karena menurutnya, sebenarnya Muhammad Rasulullah saw adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual.
Prof. WAID BARKASH (penulis buku) yang masih berstatus pendeta besar kaum Brahmana mengatakan bahwa ia telah menyerahkan hasil kajiannya kepada delapan pendeta besar kaum Hindu dan mereka semuanya menyetujui kesimpulan dan ajakan yang telah dinyatakan di dalam buku. Semua kriteria yang disebutkan dalam buku suci kaum Hindu (Wedha) tentang ciri-ciri "KALKY AUTAR" sama persis dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh Rasulullah Saw.
Dalam ajaran Hindu disebutkan mengenai ciri KALKY AUTAR diantaranya, bahwa dia akan dilahirkan di jazirah, bapaknya bernama SYANUYIHKAT dan ibunya bernama SUMANEB. Dalam bahasa sansekerta kata SYANUYIHKAT adalah paduan dua kata yaitu SYANU artinya ALLAH sedangkan YAHKAT artinya anak laki atau hamba yang dalam bahasa Arab disebut ABDUN.
Dengan demikian kata SYANUYIHKAT artinya "ABDULLAH". Demikian juga kata SUMANEB yang dalam bahasa sansekerta artinya AMANA atau AMAAN yang terjemahan bahasa Arabnya "AMINAH". Sementara semua orang tahu bahwa nama bapak Rasulullah Saw adalah ABDULLAH dan nama ibunya MINAH.
Dalam kitab Wedha juga disebutkan bahwa Tuhan akan mengirim utusan-Nya kedalam sebiuah goa untuk mengajarkan KALKY AUTAR (Petunjuk Yang Maha Agung). Cerita yang disebut dalam kitab Wedha ini mengingatkan akan kejadian di Gua Hira saat Rasulullah didatangi malaikat Jibril untuk mengajarkan kepadanya wahyu tentang Islam.
Bukti lain yang dikemukakan oleh Prof Barkash bahwa kitab Wedha juga menceritakan bahwa Tuhan akan memberikan Kalky Autar seekor kuda yang larinya sangat cepat yang membawa kalky Autar mengelilingi tujuh lapis langit. Ini merupakan isyarat langsung kejadian Isra' Mi'raj dimana Rasullah mengendarai Buroq.

Subhanallah..

Kamis, 24 November 2011

Kerajaan Gowa Tallo


a. Letak Kerajaan
Kerajaan Gowa dan Tallo lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Makassar. Kerajaan ini terletak di daerah Sulawesi Selatan. Secara geografis Sulawesi Selatan memiliki posisi yang penting, karena dekat dengan jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Bahkan daerah Makassar menjadi pusat persinggahan para pedagang, baik yang berasal dari Indonesia bagian timur maupun para pedagang yang berasal dari daerah Indonesia bagian barat. Dengan letak seperti ini mengakibatkan Kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.
b. Kehidupan Politik
Perkembangan pesat Kerajaan Makassar tidak terlepas dari raja-raja yang pernah memertntah seperti:
Ra|aAlaudin Dalam abad ke-17 M, agama Islam berkembang cukup pesat di Sulawesi Selatan. Raja Makassar yang pertama memeluk agama Islam bernama Raja Alaudin yang memerintah Makassar dari tahun 1591-1638 M. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Makassar mulai terjun dalam dunia pelayaran-perdagangan (dunia maritim). Perkembangan ini menyebabkan meningkatnya kesejahteraan rakyat Kerajaan Makassar. Namun setelah wafatnya Raja Alauddin, keadaan pemerintahan kerajaan tidak dapat diketahui dengan pasti.
Sultan Hasanuddin Pada masa peme-rintahan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Makassar mencapai masa kejayaannya. Dalam waktu yang cukup singkat, Kera¬jaan Makassar telah berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Cita-cita Sultan Hasanuddin untuk menguasai sepenuhnya jalur perdagang-an Nusantara, mendorong perluasan ke-kuasannya ke kepulauan Nusa Tenggara, seperti Sumbawa dan sebagian Flores. Dengan demikian, seluruh aktivitas pelayaran perdagangan yang melalui Laut Flores harus singgah lebih dulu di ibukota Kerajaan Makassar.
Keadaan seperti itu ditentang oleh Belanda yang memiliki daerah kekuasaan di Maluku dengan pusatnya Ambon. Hubungan Batavia dengan Ambon terhalang oleh kekuasaan Kerajaan Makassar. Pertentangan antara Makassar dan Belanda sering menimbulkan peperangan. Keberanian Sultan Hasanuddin memimpin pasukan Kerajaan Makassar untuk memporak-porandakan pasukan Belanda di Maluku, mengakibatkan Belanda semakin terdesak. Atas keberaniannya, Belanda memberi julukan kepada Sultan Hasanuddin dengan sebutan "Ayam Jantan dari Timur".
Dalam upaya menguasai Kerajaan Makassar, Belanda menjalin hubungan dengan Kerajaan Bone, dengan rajanya Arung Palaka. Dengan bantuan Arung Palaka, pasukan Belanda berhasil mendesak Kerajaan Makassar dan menguasai ibukota kerajaan. Akhimya dilanjutkan dengan Perjanjian Bongaya (1667 M).
Mapasomba Setelah Sultan Hasanuddin turun tahta, ia digantikan oleh putranya yang bernama Mapasomba. Sultan Hasanuddin sangat berharap agar Mapasomba dapat bekerja sama dengan Belanda. Tujuannya agar Kerajaan Makassar tetap dapat bertahan. Ternyata Mapasomba jauh lebih keras dari ayahnya sehingga Belanda mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menghadapi Mapasomba. Pasukan Mapasomba berhasil di-hancurkan dan ia tidak diketahui nasibnya. Dengan kemenangan itu, akhirnya Belanda berkuasa atas Kerajaan Makassar.